Begini Refleksi Kritis di Hari Guru Nasional Untuk Para Wali Murid

infogtk.org – Sahabat Info GTK seperti yang telah kita ketahui bahwa pada tanggal 25 November adalah hari guru nasional, hari dimana diadakannya upacara serimonial untuk memberikan penghormatan kepada guru setinggi-tingginya. Guru memang pantas dihormati karena jasanya yang begitu besar dalam mendidik anak bangsa.

Tapi melihat fenomena belakangan ini. Guru mulai tidak dipandang hormat, oleh sebagian peserta didik atau orang tuanya, terutama ketika guru dikriminalisasi oleh wali murid hanya karena guru tersebut mencubit murid yang memang bersalah.

Walaupun sebagian orang menganggap tindakan mencubit itu bagian dari kekerasan, tapi logika saya cukup waras dengan menanyakan balik, memang seberapa sakitnya sih dicubit itu? Apa ia bisa mengakibatkan kulitmu berdarah-darah, tidak kan.  Selain itu masih banyak para guru menghadapi kendala yang sangat bermacam-macam, apa sajakah itu. Begini Refleksi Kritis di Hari Guru Nasional Untuk Para Wali Murid yang dapat Info GTK paparkan.

Refleksi Kritis di Hari Guru

Guru di Kriminalisasi Guru di KriminalisasiSudah sering kali memang kita melihat guru dilaporkan oleh orang tua muridnya, dengan tuduhan tindak pidana kekerasan. Dunia maya terbelalak menjadi dua. Sebagian membela guru, sebagian pula lagi membela sang anak.

[artikel number=3 tag=”pendidikan” ]

Bagi para pembela guru mereka berpendapat bahwa sudah sepantasnya anak yang nakal itu diberikan hukuman. Jika semua kenakalan anak didik dilaporkan ke polisi, penjara akan penuh.

Tawuran akan dilaporkan, nyontek teman dilaporkan. Merusak fasilitas sekolah seperti mencoret-coret bangku, kursi, WC juga akan dilaporkan polisi. Ada juga yang bilang, “Jika tak mau dicubit guru ya didik saja sendiri anakmu”. Begitulah komentar yang sangat beragam di sosial media.

 

Dalam proses pendidikan itu sebetulnya, terdapat tiga pihak yang berkewajiban mendidik anak: lingkungan, kedua orangtua, dan guru. Sebab para peserta didik itu sebetulnya hasil dari hubungan biologis kedua orang tua. Maka carilah sumber-sumber proses pendidikan baik dari kitab-kitab agama, alam raya, komunitas, atau sekolahan itu sendiri.

Yang perlu kita ingat adalah bahwa sekolahan bukanlah sebuah penitipan anak.  Lembaga sekolah merupakan media belajar yang difasilitasi negara untuk memfasilitasi pendidikan warganya. Jangan kebalik yah. Jadi dalam hal ini anak harus patuh terhadap aturan yang berlaku di sekolahan.

Share This Post

Post Comment