Memaknai Hari Guru Nasional

infogtk.org – Sahabat Info GTK tahukkan bahwa 5 Oktober sejak tahun 1994 adalah awal diperingatinya Hari Guru Sedunia. Memaknai Hari Guru Nasional dengan diperingatinya hari Guru adalah bertujuan untuk memberikan dukungan kepada para guru se antero dunia dan mempercayai bahwa nasib generasi masa depan disuatu bangsa ditentukan oleh guru-guru.

Badan dunia UNESCO mengemukakan Hari Guru Sedunia telah menjadi bentuk pemahaman, kepedulian, dan apresiasi yang ditampilkan dalam bentuk kecintaan dan peran vital guru, mengajarkan ilmu pengetahuan dalam membangun generasi merupakan vital action. Sebuah federasi yang mewakili pengajaran profesional Education International (EI) di seluruh dunia, mengintruksikan bahwa Hari Guru Sedunia harus dikenal dan dirayakan! sehingga lebih dari 100 negara merayakannya.

Kemerdekaan Republik Indonesia secara historistak tak lepas dari peran guru yang menumbuhkan sikap patriotis terhadap generasi muda baik melalui madrasah ataupun sekolah yang didirikan pemerinta Hindia Belanda. Wadah perjuangan guru-guru pribumi pada zaman Hindia Belanda berdiri sejak tahun 1912 dengan nama Persatuan Guru Hindia Belanda (PGHB). Semangat kebangsaan Indonesia telah lama tumbuh di kalangan guru-guru bangsa Indonesia.

Persatuan Guru Hindia Belanda (PGHB) sifatnya unitaristik dimana pengurusnya terdiri dari para guru bantu, guru madrasah, guru desa, kepala sekolah, dan penilik sekolah. Umumnya mereka bertugas di Sekolah Desa dan Sekolah Rakyat dengan latar belakang pendidikan yang berbeda-beda.

Hasilnya antara lain adalah kepala sekolah dengan istilah HIS yang dulu selalu dijabat orang Belanda, satu persatu pindah ke tangan orang Indonesia. Semangat perjuangan ini makin berkobar dan memuncak pada kesadaran dan cita-cita kemerdekaaan. Dari sini mulai tumbuh kesadaran kebangsaan dan semangat perjuangan yang sejak lama terbelenggu mendorong para guru pribumi memperjuangkan persamaan hak dan posisi dengan pihak Belanda.

[artikel number=3 tag=”pendidikan” ]

Wadah PGHB diubah menjadi Persatuan Guru Indonesia (PGI) Pada tahun 1932. Perjuangan guru tidak lagi memperjuangkan perbaikan nasib, tidak lagi bercerita tentang kesamaan hak dan posisi dengan Belanda, tetapi telah meranah kearah perjuangan nasional dengan teriakan “merdeka”.  Hal ini membuat desakan terhadap  pemerintah Belanda dengan menjadikan kata Indonesia yang mencerminkan semangat kebangsaan sangat dimurkai oleh pemerintah Belanda. Namun sebaliknya, kata Indonesia sangat dicintai oleh guru dan rakyat Indonesia.

Share This Post

Post Comment