Perlukah Perubahan Orientasi Kurikulum Pendidikan Di Indonesia?

Orientasi Kurikulum Pendidikan Di Indonesia

Perlu disadari bahwa ketika dikala ini, sasaran kurikulum pendidikan di Indonesia masih menekankan pada kecerdasan akademik. Sedangkan pengajaran karakter marak digencarkan lewat diseminasi kurikulum Indonesia, pada praktiknya, banyak guru yang masih bingung  dalam mengimplimentasikan  pengajaran karakter hal yang demikian pada pengerjaan pelajaran. Sekarang ini dikarenakan siswa dan sekolah masih  betul-betul dituntut untuk menerima poin/skor tinggi pada ketika  ujian, nilai bagus untuk melanjutkan pengajaran ke tahapan  yang lebih tinggi atau menerima profesi.

Permasalah utama dengan pendekatan kurikulum yang seperti ini ialah  siswa seakan  diberi arahan untuk menjadi mesin pencari nilai sebab kecakapan mereka cuma ditetapkan  dari seberapa tinggi nilai  yang mereka  dapatkan di raport atau ujian.

Sekarang  ini muncul sebagai implikasi dari kebijakan sekolah yang mendiskreditkan aspek kecerdasan dan aktivitas siswa yang lain seperti seni, olahraga dan lainnya. Siswa seakan menjadi robot penghafal dan pengingat materi yang akan keluar dalam ujian.

Dengan memperhatikan dinamika global dan perkembangan teknologi, siswa  semestinya menerima bekal ilmu yang benar-benar mereka butuhkan ketika mereka tak lagi berguru. Siswa seharusnya diajarkan bagaimana menjadi komponen dari kelompok sosial global yang nantinya akan berkontribusi secara positif terhadap masyarakat.

Berdasarkan, generasi muda dunia sudah mempunyai jalan masuk yang tak terbatas pada informasi, sehingga  eksistensi dunia maya, aplikasi ponsel atau hand phone dan media sosial menciptakan perubahan dapat terjadi amat dinamis. Model Pembelajaran Sesuai Karakteristik Siswa Milenial dituntut supaya sanggup  mengerjakan penemuan- penemuan kreatif dan perubahan. Oleh karena itu, bisnis seperti facebook, google, gojek serta penemuan-penemuan kreatif lain menguasai pasaran.

Tantangan dan tuntutan sosial zaman masa sekarang  betul-betul berbeda dengan apa yang dulu terjadi. Globalisasi yang mengaburkan batas-batas geografis dan sosial  betul-betul rawan memicu perselisihan ke dalam masyarakat, bagus secara vertikal ataupun horisontal. Generasi muda  betul-betul rentan kepada goncangan sosial  seandainya  tak mempunyai pemahaman akan arti penting toleransi dan rasa menghargai.

Perlu kita sadari bahwa kecerdasan seperti kecerdasan matematis dan pengetahuan alam masih penting, tapi  bukan berarti kecerdasan lain seharusnya diabaikan. Justru kecerdasan emosionil dan spiritual amat benar-benar berdampak  bagi perkembangan jiwa seorang individu.

Saat  hasil dari Future of Job Reports oleh World Economic Forum, di tahun 2020, generasi global dituntut untuk lebih merajai kecerdasan emosi  seperti pemecahan persoalan yang rumit, pemikiran kritis, manajemen diri, kerjasama, kestabilan emosional  diplomasi dan lain-lain.

Oleh sebab itu, pengembang kurikulum sekolah di Indonesia seharusny mengambil nilai hal yang demikian sebagai pertimbangan dalam membentuk kurikulum nasional. Sekolah dan pemerintah seharusnya menyadari bahwa pengembangan keterampilan sosial dan emosional sudah timbul sebagai tujuan bersama dari metode atau cara pengajaran di mana saja. Sehingga, revolusi pengajaran di pengajaran Indonesia betul-betul diperlukan  terpenting dengan melihat dan mengamati serta memandang dua aspek:

Share This Post

Post Comment